1239083049 1Pekerjaan sebagai seorang dokter spesialis radiologi memiliki dilema tersendiri. Bayangkan, lulusan spesialis radiologi saat ini rata-rata berumur sekitar 32-35 tahun, sehingga kira-kira akan mengerjakan pekerjaan menginterpretasi foto radiologi seumur hidup selama kira-kira 30-40 tahun kedepan. Membosankan, bukan? Bukan tidak mungkin bahwa pada akhirnya akan terjebak pada materialisme dan konsumerisme, karena biasanya uang akan menjadi alasan utama untuk tetap bertahan melanjutkan rutinitas yang menjemukan tersebut. Masalahnya, apakah hanya uang yang menjadi alasan pekerjaan anda sebagai dokter?

Berikut ini adalah kutipan dari sebuah majalah, yang mudah-mudahan dapat menjadi inspirasi.

KNOWING YOU VALUES

Tidak bisa disangkal bahwa manusia punya kebutuhan dasar yang harus dipenuhi, seperti pangan, sandang, papan. Bahkan, pada tingkatan lebih tinggi, serangkaian kebutuhan lain pasti muncul, antara lain keamanan, interaksi sosial, pengakuan dari lingkungan, dan cinta/kasih sayang.

Idealnya, dalam proses pemenuhan kebutuhan dasar hingga yang kompleks, kita sudah harus memiliki pemahaman atas passion (segala hal yang terpenting yang menjadi pilihan hidup) dan purpose of life (segala hal yang menjadi tujuan hidup). Sudah lengkap? Belum, masih ada satu lagi elemen yang mendasari setiap langkah dan pilihan hidup, yakni nilai-nilai kehidupan pribadi atau values. Ketiganya akan membuat hidup jadi bermakna.

The Trap With No Cheese...
Sayangnya, obrolan tentang values seringkali berujung pada ketidakjelasan, kebingungan, bahkan ketidakpedulian. Saya butuh sembilan tahun untuk mengenal passions saya. Waktu sedikit lebih pendek diperlukan untuk tahu purpose of life. Dan, waktu yang lebih panjang untuk mengetahui values. Yes, I am a late starter.

Saya seringkali melihat rekan-rekan profesional yang sedemikian rupa sibuknya sehingga tidak menyadari bahkan tidak mempedulikan values mereka. Secara sadar atau tidak, kita sudah membiarkan diri didefinisikan oleh atribut-atribut temporer, seperti uang, jabatan, bahkan jenjang pendidikan. Kita lebih fasih menjawab kenapa Hermes lebih mahal dari Next. Kita melanjutkan pendidikan sekadar untuk mendapatkan jabatan lebih baik atau pengakuan masyarakat. Pada ujungnya, kita termasuk kategori manusia apatis namun mengaku pragmatis: semua cuma soal duit, UUD, dan bottom line. Wajah kita kosong saat ditanya. “Apa, sih, yang paling penting dalam hidup kita?” Dan, cuek saat diminta menjelaskan values kita.

All Dogs Can Learn New Tricks
Banyak manfaat saat mengetahui, memahami, dan commit terhadap values kita. Kesadaran mengenai values akan memberikan arah dalam segala aspek kehidupan. Seluruh tindakan pun akan konsisten dan tanpa penyesalan. Tiada kekhawatiran, tanpa ketakutan. Tidak ada lagi kebingungan dalam menentukan pilihan-pilihan hidup dan karier.

Tetapkan values dan tidak akan ada lagi perdebatan monolog dengan diri sendiri. Dan, tidak akan ada lagi pertanyaan-pertanyaan seperti: “Pilihan saya salah atau benar, ya?” atau “Apakah kita bisa melakukannya lebih baik?” atau “Apakah ada opsi lain yang kita tidak tahu?”

Heaven Will Not Ignore Sincere Effort and True Determination
Ibarat akar bagi pohon besar, values memang tidak terlihat namun berfungsi besar dalam menopang kita untuk hidup dan tumbuh.

Bagaimana caranya? Temukan dulu hal-hal yang menjadi values. Kemudian, cari cara untuk selalu connect dengannya. Pertanyaan besar yang harus diajukan setiap saat adalah, “Apakah tindakan saya konsisten dengan values saya?” Pebisnis kawakan dan penulis favorit saya, Kazuo Inamori, menjabarkan values sebagai kumpulan jati diri, niat, dan pedoman terbaik yang bisa dipikirkan masing-masing orang. Diawali, lagi-lagi, dengan pertanyaan, “Apakah hal terbaik dan terbenar yang harus dijalankan oleh manusia?” Kata kuncinya adalah righteousness.

Apa bedanya dengan idealisme yang diajarkan oleh agama? Hampir-hampir tidak ada. Agama mengajarkan nilai-nilai terbaik universal dan mungkin terkesan 'asing' atau 'nun jauh disana'. Sementara, values ada dalam diri sendiri. Kita punya ownership yang sangat jelas atau values yang kita adopsi sendiri.

Masih belum mengerti juga cara mencari values? Begini saja, tanyakan kepada diri sendiri bagaimana kita hendak diingat oleh keluarga, teman, dan orang lain saat kita sudah tidak ada? Tanyakan, manfaat apa yang sudah atau akan kita kontribusikan bagi orang lain, mahluk lain, dan planet ini? Jawabannya bisa jadi adalah values anda.

So, one more time, what are your values in life?

Dikutip dari Clear Area Magazine (Oktober 2008), ditulis oleh Rene Suhardono Canoneo, Career Coach & Partner dari The Amrop Hever Group.