1245895037 1Sebagian besar orang di Indonesia tidak mengenal teknik Alexander. Padahal di negara-negara lain,  terutama di Eropa, teknik ini sangat dikenal orang dan telah diaplikasikan dalam berbagai bidang profesi maupun aktivitas rutin sehari-hari.

Teknik Alexander didefinisikan sebagai upaya mengorganisasikan sensasi pergerakan tubuh dalam ruang dan waktu, dengan cara meningkatkan kesadaran atas diri sendiri dan dunia luar. Mungkin anda pernah pada suatu waktu mengalami perasaan tertekan, pasif, letargi, bosan, depresi, dan merasa tidak berharga. Sebaliknya kadang-kadang anda juga merasa berada di puncak dunia, merasa hidup dan semua terkesan membahagiakan.

Adanya kesadaran untuk mengendalikan diri sendiri dapat memungkinkan kesatuan sistem-sistem dalam tubuh kita yang dapat memberikan kemudahan dan efisiensi dalam aktivitas sehari-hari.

Teknik ini ditemukan oleh Frederick Matthias Alexander (1869-1955) dari Australia, bahkan telah didirikan sebuah perkumpulan yang mendalami teknik ini, yaitu Society of Teachers of the Alexander Technique (STAT) yang telah memiliki cabang di berbagai negara dengan pusatnya di Inggris.

Teknik Alexander, yang telah teruji dan terbukti dalam 100 tahun terakhir, mengajarkan bahwa segala keberhasilan dari tindakan yang kita lakukan tergantung dari seberapa baik tubuh dan pikiran kita berfungsi sebagai satu kesatuan.

Apa kaitan teknik Alexander dengan radiologi?
Salah satu contoh konkret, yaitu bahwa dewasa ini aktivitas sehari-hari dokter spesialis radiologi tidak jauh dari pekerjaan di hadapan komputer. Meskipun tindakan mengetik keyboard komputer tidak memerlukan pergerakan otot yang banyak, tetapi masih saja dapat memberikan banyak keluhan seperti nyeri leher, sakit kepala, nyeri bahu (frozen shoulder) dan rasa frustrasi. Bekerja dalam waktu lama di hadapan layar komputer dapat menurunkan konsentrasi.

Dalam kondisi seperti ini, menyadari dan memperbaiki pola bernafas dapat membantu mengurangi kekakuan otot leher. Dengan mempertahankan banyaknya udara yang mengalir kedalam paru-paru, suplai oksigen ke otak relatif stabil. Hal ini tidak saja membantu kita tetap berada dalam konsentrasi penuh, tetapi juga membuat kita tetapi menyadari apa yang sedang kita lakukan. Bila tidak, biasanya kita akan lebih cenderung membuat kesalahan. Beristirahat sejenak, atau kadang berdiri dari kursi untuk sementara, dapat juga membantu. Perlu diperhatikan juga desain ergonomis tempat kerja, yang biasanya seringkali diabaikan orang.

Apa yang sebaiknya dilakukan?

  • menggunakan meja dengan ketinggian yang tepat
  • jangan terburu-buru
  • berdiri dari kursi secara berkala
  • tetap terjaga/fokus

Apa yang sebaiknya tidak dilakukan?

  • mencondongkan badan ke depan atau membungkuk
  • menahan nafas
  • pergelangan tangan kaku/tegang
  • lengan bawah tegang
  • bekerja terlalu cepat
  • tetap duduk dalam jangka waktu lama
  • tidak terjaga, bengong/melamun/trance

 

step1LANGKAH 1
Regangkan otot punggung, duduk tegak sehingga kepala berada tepat diatas tulang belakang.

 

 

 

 

step2

LANGKAH 2
Regangkan jari-jari kearah lantai dan bernafas dalam.

 

 

 

 

 step3LANGKAH 3
Letakkan lengan diatas keyboard dengan sendi siku dalam keadaan rileks, kira-kira membentuk sudut 90 derajat. Posisi lengan bawah yang baik kira-kira sejajar/paralel dengan bidang horizontal.

 

 

 

 

step4LANGKAH 4
Mulailah proses mengetik keyboard dengan tetap menjaga kesadaran untuk tidak terburu-buru, bernafas dalam dan teratur, serta tidak menegangkan pergelangan tangan dan leher.

 

Referensi
Glynn MacDonald. Complete Alexander Technique : A Practical Programme for Health, Poise and Fitness. Published by Element Books Ltd. in Great Britain, 1998.